
Global Healthwire – Pandemi Tanpa Suara kini menjadi istilah yang menggambarkan ancaman resistensi antimikroba di seluruh dunia. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia, Prof. Dr. Taruna Ikrar, PhD, MBiomed, memperingatkan bahwa resistensi ini merupakan ancaman besar bagi sistem kesehatan global. Dalam orasi ilmiah di Universitas Prima Indonesia (Unpri) Medan, Sumatera Utara, Sabtu (4/1), ia menekankan pentingnya upaya bersama untuk mengatasi masalah ini. Pada kesempatan tersebut, Prof. Taruna juga menerima penghargaan sebagai ilmuwan berpengaruh dari Rektor Unpri, Prof. Dr. Crismis Novalinda Ginting, MKes.
Prof. Taruna menjelaskan bahwa resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit, menjadi kebal terhadap obat antimikroba. Fenomena ini tidak terisolasi tetapi merupakan hasil dari seleksi alam dan adaptasi genetik.
“Setiap kali mikroorganisme terpapar agen antimikroba, terjadi seleksi ketat. Mikroorganisme dengan keunggulan genetik akan bertahan hidup dan berkembang biak,” ungkapnya. Ia juga memaparkan bahwa bakteri dapat berbagi informasi genetik resistensi melalui mekanisme transfer gen horizontal, mempercepat penyebaran kemampuan bertahan terhadap antimikroba di berbagai spesies.
Sejak ditemukannya antibiotik pertama oleh Alexander Fleming pada 1928, resistensi mulai menjadi ancaman serius. Pada 1962, ilmuwan menemukan mekanisme transfer gen resistensi melalui plasmid, memungkinkan mikroba bertahan bahkan melintasi spesies yang berbeda.
“Baca juga: AS Pertimbangkan Label Kanker pada Minuman Beralkohol”
Menurut Prof. Taruna, mikroorganisme menggunakan beberapa strategi untuk melawan obat antimikroba:
Multidrug Resistant Strain: Ancaman Global
Prof. Taruna menyoroti perkembangan multidrug resistant (MDR) strain, seperti Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan tuberkulosis resisten obat. Resistensi ini telah menjadi ancaman global, terutama karena penggunaan antibiotik secara masif di bidang kedokteran dan peternakan sejak 1940-an.
“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkategorikan resistensi antimikroba sebagai salah satu masalah kesehatan global terbesar,” kata Prof. Taruna. Ia memperingatkan bahwa resistensi ini dapat mengacaukan seluruh arsitektur pengobatan modern.
“Simak juga: Sarapan Sehat vs Skip Sarapan: Apa Bedanya untuk Tubuh?”
Resistensi antimikroba tidak hanya membahayakan kesehatan manusia, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas. WHO memperkirakan pada 2050, 10 juta nyawa akan hilang setiap tahun akibat infeksi resisten.
Selain itu, Bank Dunia memprediksi kerugian ekonomi global sebesar 100 triliun dolar AS pada tahun yang sama. Negara berkembang akan terkena dampak paling parah dengan meningkatnya biaya pengobatan dan hilangnya produktivitas tenaga kerja.
Menurut Prof. Taruna, penyebab utama resistensi adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional, termasuk praktik pengobatan mandiri, pemberian dosis subterapi, dan penggunaan antibiotik spektrum luas.
Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas negara dan sektor untuk mengatasi masalah ini. Transformasi penggunaan antimikroba di bidang kesehatan dan pertanian menjadi langkah penting.
“Di Indonesia, resistensi antimikroba menjadi tantangan unik karena keragaman ekologis dan praktik kesehatan yang beragam,” jelasnya.
Salah satu solusi inovatif yang disebutkan adalah terapi fago, yang menggunakan bakteriofage untuk membunuh bakteri secara spesifik. Prof. Taruna optimistis bahwa penelitian akan terus berkembang untuk menghadapi ancaman ini.
Global Health Wire - Sembilan hari sebelum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan adanya wabah pneumonia misterius di Wuhan,…
Global Health Wire - Menurut data World Health Organization (WHO) 2023, lebih dari 1,4 miliar orang di seluruh dunia menghadapi…
Global Health Wire - Dunia belum sepenuhnya pulih dari luka pandemi COVID-19 ketika WHO merilis laporan mengejutkan: risiko pandemi berikutnya…
Global Health Wire - Dunia medis sedang bergolak: sebuah studi yang diterbitkan di jurnal The Lancet pada September 2024 mengungkap…
Global Health Wire - Sebuah survei WHO tahun 2023 mengungkapkan fakta yang sulit diabaikan: 68% populasi global mengubah setidaknya satu…
Global Health Wire - Tekanan terhadap sistem layanan kesehatan di seluruh dunia semakin nyata: dari kekurangan tenaga medis di negara…
This website uses cookies.