
Global Healthwire – Penyebab demam naik turun sering kali menjadi tanda adanya kondisi medis tertentu yang perlu perhatian lebih. Demam yang naik dan turun berulang kali dalam waktu tertentu ini, atau yang dikenal dengan fluctuating fever, bisa menjadi gejala dari berbagai penyakit atau gangguan kesehatan. Meskipun demam biasanya merupakan respons tubuh terhadap infeksi, demam yang tidak stabil ini dapat mengindikasikan masalah kesehatan yang lebih serius. Lantas, apa saja penyakit atau kondisi medis yang dapat menyebabkan demam naik turun? Berikut penjelasannya.
Demam berdarah dengue (DBD) adalah infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini sering kali menyebabkan demam tinggi yang berlangsung dalam beberapa hari. Salah satu ciri khas DBD adalah demam yang naik secara signifikan dan kemudian menurun, hanya untuk kemudian meningkat kembali. Inilah yang dikenal dengan pola fluctuating fever atau demam intermiten.
Penyebab utama dari demam naik turun pada DBD adalah respons tubuh terhadap infeksi virus. Proses ini memengaruhi sistem kekebalan tubuh serta fluktuasi suhu tubuh. Pada fase kritis DBD, kadar trombosit dalam darah bisa menurun drastis, dan suhu tubuh kembali meningkat, memperburuk gejala yang ada. Selain demam naik turun, penderita DBD juga sering merasakan gejala lain seperti nyeri tubuh, sakit kepala, nyeri belakang mata, ruam kulit, pendarahan gusi, kelelahan, dan penurunan tekanan darah yang signifikan.
“Baca juga: Menu Sehat Mie Instan: Masak Mie Dengan Cara Sehat Sederhana”
Pneumonia adalah infeksi pada paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur. Penyakit ini dapat menyebabkan demam tinggi yang tidak stabil, yang seringkali mengarah pada fluktuasi suhu tubuh, terutama pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri seperti Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae. Pada penderita pneumonia, demam biasanya terjadi dalam gelombang, dengan suhu tubuh yang naik pada siang hari dan turun pada malam hari.
Selain demam naik turun, pneumonia juga disertai dengan gejala lain yang khas, seperti batuk berdahak atau mengandung darah, sesak napas, nyeri dada, kelelahan parah, dan menggigil.
Malaria adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Salah satu ciri khas dari malaria adalah demam yang berfluktuasi atau naik turun, yang terjadi karena siklus hidup parasit di dalam tubuh manusia. Proses ini melibatkan serangan parasit pada sel darah merah yang mengarah pada peradangan serta reaksi imun tubuh, memengaruhi suhu tubuh.
Ketika parasit berkembang biak dan menghancurkan sel darah merah, tubuh melepaskan zat kimia yang disebut pyrogens, yang memicu peningkatan suhu tubuh. Setelah itu, suhu tubuh dapat menurun seiring dengan fase sel darah merah yang baru terinfeksi, dan meningkat kembali pada siklus berikutnya. Selain demam naik turun, gejala malaria juga mencakup mual muntah, sakit kepala, nyeri tubuh, menggigil, dan kelelahan.
“Simak juga: Bebas Ngorok Saat Tidur! Ini Tips Lengkap Mengatasi Mendengkur”
Beberapa kondisi autoimun, seperti lupus eritematosus sistemik atau rheumatoid arthritis, dapat menyebabkan demam naik turun. Pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel tubuh yang sehat, yang dapat memengaruhi suhu tubuh dan menyebabkan fluktuasi suhu yang signifikan. Demam intermiten adalah gejala umum pada beberapa penyakit autoimun dan bisa berulang selama periode tertentu.
Beberapa jenis kanker, seperti limfoma atau leukemia, juga dapat memicu demam naik turun. Hal ini disebabkan oleh respons tubuh terhadap sel-sel kanker yang mengganggu produksi bahan kimia serta sel-sel imun yang mengatur suhu tubuh. Penderita kanker dapat mengalami demam yang datang dan pergi, yang sering kali disertai dengan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, kelelahan, dan gejala lainnya.
Ketidakseimbangan hormon, seperti yang terjadi pada penderita hipertiroidisme atau hipotiroidisme, dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh yang signifikan. Gangguan pada kelenjar tiroid ini mengganggu metabolisme tubuh, yang berperan dalam pengaturan suhu tubuh. Penderita gangguan hormon ini sering kali merasakan demam naik turun yang tidak dapat dijelaskan.
Dehidrasi parah dan kekurangan elektrolit juga dapat menyebabkan demam naik turun. Kekurangan cairan dan elektrolit dalam tubuh mengganggu fungsi sel dan sistem tubuh lainnya, yang akhirnya memengaruhi pengaturan suhu tubuh. Selain demam, dehidrasi juga dapat menyebabkan kelelahan, pusing, dan gejala lainnya yang membahayakan kesehatan.
Beberapa orang mungkin mengalami demam naik turun setelah menerima vaksinasi. Ini adalah reaksi normal tubuh yang terjadi setelah vaksin merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk pertahanan terhadap penyakit tertentu. Demam ini biasanya bersifat sementara dan akan hilang setelah beberapa hari.
Penggunaan obat tertentu, seperti antibiotik, dapat menyebabkan demam naik turun sebagai efek samping. Reaksi tubuh terhadap obat-obatan tersebut, atau bahkan reaksi alergi, dapat memicu peradangan yang menyebabkan perubahan suhu tubuh. Jika demam berulang muncul setelah mengonsumsi obat-obatan tertentu, segera konsultasikan dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami demam yang naik turun, terutama disertai gejala lain seperti kelelahan, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, ruam, atau kesulitan bernapas, sebaiknya segera mencari pertolongan medis. Suhu tubuh yang tidak stabil bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan serius yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Global Health Wire - Sembilan hari sebelum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengumumkan adanya wabah pneumonia misterius di Wuhan,…
Global Health Wire - Menurut data World Health Organization (WHO) 2023, lebih dari 1,4 miliar orang di seluruh dunia menghadapi…
Global Health Wire - Dunia belum sepenuhnya pulih dari luka pandemi COVID-19 ketika WHO merilis laporan mengejutkan: risiko pandemi berikutnya…
Global Health Wire - Dunia medis sedang bergolak: sebuah studi yang diterbitkan di jurnal The Lancet pada September 2024 mengungkap…
Global Health Wire - Sebuah survei WHO tahun 2023 mengungkapkan fakta yang sulit diabaikan: 68% populasi global mengubah setidaknya satu…
Global Health Wire - Tekanan terhadap sistem layanan kesehatan di seluruh dunia semakin nyata: dari kekurangan tenaga medis di negara…
This website uses cookies.