
Keracunan Massal Siswa, Apa yang Salah dari Menu Ikan Hiu MBG?
Global Health Wire – Ribuan anak di Indonesia dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG, salah satunya olahan ikan hiu di Kalimantan Barat. Sungguh ironis, mengingat riset internasional menunjukkan bahwa konsumsi daging hiu justru membawa risiko tinggi terhadap kesehatan, terutama karena akumulasi merkuri dalam tubuhnya, yang dapat memicu gangguan saraf, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil.
Meski demikian, kepercayaan lama masih beredar bahwa makan daging hiu dapat meningkatkan vitalitas dan kesehatan. Padahal, bukti ilmiah justru memperingatkan bahaya serius jika konsumsi daging hiu dilakukan sembarangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Penelitian dalam jurnal Exposure and Health yang melibatkan tim dari Florida International University (FIU) dan Hong Kong menemukan bahwa mayoritas daging dan sirip hiu di pasar memiliki kadar merkuri jauh di atas batas aman. Dari 267 sampel sirip hiu yang diteliti, sekitar 75% melebihi batas legal yang ditetapkan Pusat Keamanan Pangan Hong Kong (0,5 ppm metilmerkuri).
“Simak Juga: Premier League, Prediksi Arsenal vs Newcastle United 28 September 2025”
Khasiat meresahkan ditemukan pada hiu martil (hammerhead). Beberapa sampel sirip hiu martil menunjukkan kadar jauh melebihi ambang batas, dari angka 0,28 hingga 26,24 ppm. Bahkan, sebagian sirip menyentuh kadar 20 kali lipat dari normal. Spesies hiu lain pun menunjukkan variabilitas tinggi, dengan kadar metilmerkuri antara 0,17 hingga 25,53 ppm pada sampel tertentu.
Metilmerkuri, bentuk organik dari merkuri, mudah terakumulasi dalam rantai makanan laut, terutama pada predator puncak seperti hiu. Semakin besar ukuran hiu, semakin tinggi akumulasi racun ini. Jika masuk ke tubuh manusia, khususnya anak dan janin, metilmerkuri dapat menyerang sistem saraf pusat dan otak.
Dr. Demian Chapman, salah satu peneliti studi, menyampaikan kritik tajam:
“Konsumen papan atas yang membeli sirip hiu premium mungkin tak menyadari bahwa mereka tengah menaruh kesehatan diri dan tamu dalam risiko terbesar,” tambahnya, bahwa perdagangan sirip juga memperparah tekanan terhadap konservasi hiu martil.
Lebih jauh, tim peneliti meneliti 33 sampel daging hiu dari Trinidad dan Tobago, negara di mana konsumsi hiu relatif tinggi. Hiu martil bergigi dan hiu hidung tajam Atlantik sering menunjukkan kadar merkuri melebihi batas konsumsi aman setempat (1 ppm). Beberapa sampel mencapai 2-3 kali lipat batas tersebut. Peneliti mendesak pemerintah dan konsumen untuk lebih kritis terhadap spesies hiu apa yang dikonsumsi, karena tingkat risikonya berbeda-beda.
Kasus keracunan massal yang melibatkan menu ikan hiu di program MBG menambah bukti betapa nyata risiko tersebut ketika racun lingkungan dan regulasi makanan tak terkendali. Menurut dr. Yogi, SpA(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), konsumsi hiu sangat tidak dianjurkan bagi anak-anak:
“Akumulasi merkuri di ikan hiu bisa jauh lebih tinggi dibanding jenis ikan lain, sehingga sangat tidak pantas diberikan pada anak.”
Gejala keracunan pada anak bisa muncul sebagai muntah, diare, nyeri perut, hingga dehidrasi berat. Dalam kasus ekstrem, demam tinggi dan kejang dapat muncul akibat gangguan elektrolit dan fungsi saraf. dr. Yogi mengingatkan bahwa niat menyediakan gizi lewat program MBG tidak boleh mengorbankan faktor keamanan pangan.
Menanggapi insiden keracunan massal, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah sigap. Menteri Koordinator Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), mengumumkan keputusan untuk menutup sementara seluruh SPPG (Satuan Penyelenggara Program Gizi) yang terduga bermasalah. Langkah evaluasi dan investigasi menyeluruh akan dilakukan sebelum operasional kembali diizinkan.
Program MBG sendiri telah menghadapi kritik sejak awal. Sejak Januari 2025 saja, telah terjadi puluhan kasus keracunan massal di sejumlah daerah, seperti Cianjur (78 siswa), Sukoharjo, Batang, Bogor, dan daerah lainnya. Total setidaknya ada 17 insiden luar biasa MBG di 10 provinsi sepanjang tahun ini. BPOM telah mengungkap bahwa banyak penyebab berasal dari kontaminasi bakteri akibat penyimpanan, pengelolaan bahan, hingga waktu distribusi yang terlalu lama.
“Baca Juga: KPK Menduga Rektor USU Terlibat Diskusi Pergeseran Anggaran Sumut”
Informasi ini bersumber dari CNBCIndonesia. Ribuan anak di Indonesia dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG, salah satunya olahan ikan hiu di Kalimantan Barat. Simak ulasan lengkapnya di GlobalHealthWire.
|Penulis: Lukman Azhari
|Editor: Anna Hidayat
Global Health Wire - Teknologi kesehatan global mengubah cara layanan medis diberikan dengan menghadirkan inovasi terbaru yang mempermudah diagnosa, perawatan,…
Global Health Wire - Vaksin terbaru dan dampaknya telah mencuri perhatian dunia dalam upaya mengatasi berbagai tantangan kesehatan global secara…
Global Health Wire - Tantangan kesehatan global baru terus muncul dan membawa dampak serius pada kualitas hidup masyarakat di berbagai…
Global Health Wire - Berita kesehatan global riset medis selalu menjadi topik yang penting untuk diikuti karena terus memberikan informasi…
Global Health Wire - Berita kesehatan global perlu diikuti agar masyarakat dan tenaga medis selalu update dengan tren dan perkembangan…
Global Health Wire - Terobosan teknologi medis global kini menghadirkan berbagai inovasi yang siap mengubah cara penanganan berbagai penyakit kritis…
This website uses cookies.