Pohon Tabebuya, Si Cantik dengan Segudang Manfaat Kesehatan
Global Health Wire – Pohon tabebuya dikenal karena keindahan bunganya yang bermekaran di sepanjang jalan, terutama di kota Surabaya. Sekilas mirip bunga sakura, tabebuya menghadirkan pesona warna-warni yang menawan. Namun, keindahannya bukan satu-satunya hal istimewa dari tanaman ini. Di balik kelopak indahnya, tabebuya juga menyimpan potensi manfaat kesehatan yang tak banyak diketahui orang.
Pohon tabebuya memiliki banyak cabang dan bunga lebat yang bisa melindungi dari paparan sinar matahari langsung. Tak hanya berfungsi sebagai pelindung alami, pohon ini juga membantu memperkaya tanah karena bagian-bagiannya dapat digunakan sebagai pupuk alami.
“Baca Juga: Minum Air Jahe Lemon Setiap Hari, Apa Manfaatnya?”
Mengutip Science Direct, berbagai spesies tabebuya telah digunakan sejak zaman kuno oleh masyarakat di wilayah Amazon. Mereka memanfaatkannya untuk mengobati beragam penyakit seperti sifilis, demam, malaria, infeksi menular, hingga masalah pencernaan.
Sumber lain, WebMD, mencatat bahwa tanaman ini dipercaya dapat membantu mengatasi anemia, arthritis, asma, infeksi kandung kemih dan prostat, bronkitis, diabetes, diare, eksim, psoriasis, serta berbagai kondisi lainnya. Meski penggunaannya masih bersifat tradisional, minat terhadap khasiat tabebuya terus meningkat.
Secara ilmiah, tanaman ini dikenal sebagai Tabebuia rosea, dan juga disebut sebagai taheebo, lapacho, pau d’arco, serta ipe roxo. Di beberapa budaya, bagian kulit kayu dan daunnya biasa dikeringkan dan diseduh menjadi teh untuk membantu meredakan demam. Menurut Gentry dalam penelitiannya A Synopsis of Bignoniaceae Ethnobotany and Economic Botany, teh dari kulit kayu tabebuya dipercaya ampuh menurunkan panas tubuh.
Popularitas tabebuya sempat melonjak pada tahun 1960-an karena klaim kemampuannya membantu mengobati kanker, terutama di Brasil. Ekstrak dari kulit dan batang kayunya, seperti Tabebuia impetiginosa, T. rosea, dan T. serratifolia, diolah menjadi berbagai produk, termasuk makanan kesehatan.
Menurut penelitian lebih lanjut, tabebuya mengandung senyawa bioaktif seperti napthoquinones, khususnya lapachol dan beta-lapachone. Senyawa beta-lapachone bahkan sempat diajukan ke National Cancer Institute (NCI) pada 1970. Namun, karena kadar toksisitasnya terlalu tinggi, penggunaannya belum disetujui secara luas. Hingga kini, beta-lapachone masih dalam tahap uji klinis fase II di Amerika Serikat sebagai bagian dari riset medis lanjutan.
Walaupun potensi tabebuya sangat menjanjikan, hingga saat ini belum ada cukup bukti ilmiah yang benar-benar menguatkan efektivitasnya dalam dunia medis modern. Oleh karena itu, konsumsi tabebuya sebagai pengobatan harus dilakukan dengan hati-hati dan didampingi oleh tenaga medis.
“Simak Juga: Aktor Ray Sahetapy Meninggal Dunia, Dunia Perfilman Berduka”